Belajar matematika berarti belajar tentang kehidupan kita, karena tanpa kita sadari matematika merupakan bagian dari hidup kita. perinsip belajar matematika berarti kita harus bisa menggunakan nalar kita, berlogika, dan sistematik.
Untuk itu, marilah kita perdalam penguasan kita di bidang matematika.
Awali dengan Niat Baik dan Lakukan dengan Baik-Baik
Cinta paling menyakitkan bila orang yang kau cintai sama sekali tidak mengetahui perasaanmu (terhadapnya). Dan sangat naif beranggapan bahwa seseorang bisa mengetahui dengan sendirinya tanpa adanya pengakuan secara ekstrinsik.... pengakuan akan membantu kita menjadi berani dan bertanggung jawab atas konsekuensi perbuatan kita. Grow Up Guys!! Ketika kita harus diam, maka diam itu adalah emas. Namun bagaimana dengan sikap seseorang yang selalu diam ?. adakah mereka setuju atau tidak !. membingungkan itulah yang ada. Ketika cinta diam tanpa kata, banyak banget kegundahan yang menghantui diri, salah kita atau memang orang yang kita cintai terdiam saat kita ada. Embun, tak selamanya sejuk. Karena ketika matahari mulai memancarkan teriknya, embun itu akan kering dengan sendirinya. Lalu setelah itu, badai panaslah yang ada. Perasaan memang perlu pengakuan ekstrinsik, bukan untuk dipendam ataupun dirahasiakan. Kalau memang cinta katakanlah cinta, jika memang tidak jangan pernah membuat orang itu menderita karenamu. Setiap orang pasti menginginkan perhatian dari orang yang ia cintai. sama juga seperti aku, kamu, dia dan mereka
Saat aku masih bersamamu, begitu banyak kata-kata indah yang kurangkai, setiap saat setiap waktu selalu menjadikan hari-hariku lebih berarti. Karena masih ada orang yang peduli denganku. Orang yang mengingatkanku saatku terlupa, memberi semangat ketika aku lemah, menginspirasi ketika aku belajar, memaafkanku ketika aku khilaf dan yang terpenting adalah senyumanmu yang membuat hatiku damai.
Begitu indah ku jalani denganmu, canda tawamu selalu menghiburku. Ditambah lagi dengan gaya rambutmu yang diikat di bagian belakang terus ada poni di depan dan menyamping ke kiri, yang akan terlihat indah ketika disapa oleh hembusan angina yang spoi.
Sebuah perjalanan memang tak bernah berjalan mulus, begitu pula dengan aku dan kamu. Saat kita bertengkar, selalu ada nilai kebencian diantara kita dan berakhir jika aku yang mengalah. Itu semua kulakukan agar pertengkaran kita tidak berlarut pada kebencian yang sesungguhnya yang akan membuatmu marah kepadaku. Dan memberi kesan buruk terhadap cerita kita.
Perasaan takut akan kehilangan cintamu itulah yang membuatku rela bertahan walau diriku tertindas oleh egomu. Itung-itung melatih kesabaran emosiku.
Namun, kali itu aku gak bisa terima ketika sikapmu yang mulai berubah. Kamu tak seperti yang dulu lagi, kamu lebih terlihat pendiam, sensitive dan selalu mencari kesalahanku. apa sebabnya engkau pun tak mau menjelaskannya padaku. Setiap kali bertemu, tak ada canda tawa seperti dulu. Setiap kali aku bertanya tentang sesuatu, kamu hanya mengangguk dan menggeleng-gelengkan kepala. Entah apa yang menyebabkanmu bersikap seperti ini, tak mau bicara dan selalu menghindar dariku. Hingga pada akhirnya aku mulai bosan dengan sikapmu.
Aku bosan ketika kamu tak mau mulai bicara, tersenyum apalagi tertawa. Aku bosan ketika aku bercerita panjang lebar dan ada respon darimu, aku bosan ketika kamu tak mau terima telponku dan balas smsku. Aku bosan ketika aku meminta bertemu dan kamu tak mau. Aku bosan dengan segala tingkah lakumu. Dan aku bosan berpacaran denganmu. “apa salahku?” tanyaku padamu yang selalu mendiamkanku. Tapi tetap saja kamu terus membungkam mulutmu.
…..Penghiatan cinta pun terjadi, aku berselingkuh di hadapanmu, itu semua ku lakukan untuk menguji apakah kamu masih sayang padaku atau sebaliknya. Namun tangisanmu membuat penyesalan dalam diriku. Aku memang salah….
Tak seharusnya aku biarkan cintaku Pergi....!!!